|
Pendahuluan Krisis ekonomi yang yang bermula dari pasar keuangan AS telah menyebar dengan cepat ke berbagai negara-negara berkembang seperti Cina, India dan Brazil, telah mengancam tingkat kehidupan masyarakat miskin serta ketidak pastian akan masa depan, krisis ini bermula dari kehancuran-kredit (credit-crunch) akibat dari tingkat hutang yang berlebihan, ditambah lagi oleh kompleksitas produk dan puncak kegagalan moral sehingga menghasilkan konflik kepentingan yang kemudian akan menghasilkan ketidaksesuaian antara insentif dari berbagai kelompok dan individu yang terlibat.
Ekonomi Islam menentang penggunaan bunga (interest) dan praktek judi (maysir)dalam transaksi keuangan begitu pula dengan pengejaran keuntungan materi semata. Tujuan dari catatan singkat ini adalah untuk menela'ah relevansi ekonomi Islam. Apakah ia memiliki pesan untuk kemanusiaan,yang berbarengan dengan masalah keuangan yang sedang terjadi? Sebagaimana telah digaris bawahi sebelumnya mengenai penyebab krisis yang terjadi berdasar empat catatan diatas, maka artikel ini mencoba untuk menetapkan sebuah tesis bahwa kebanyakan faktor penyebab berakar dari kegagalan moral yang mengarah kepada eksploitasi dan korupsi. kemudian artikel ini akan ditindaklanjuti dengan penjelasan mengenai riba dan mysir adalah sama dengan bunga bank dan perjudian- seperti spekulasi berdasarkan pergeseran risiko (risk shifting) yang berbeda dari berbagi risiko (risk sharing). Kemudian akan dijelaskan bahwa hutang-keuangan digabungkan dengan produk spekulatif yang menyusutkan paham untuk menentang peluang bagi agen-agen serakah maksimalisasi-profit dangan mengeksploitasi aspirasi investor biasa dan menggiring pemilik rumah dan konsumen untuk hidup di luar kemampuan dan terus mengejar mimpi yang tak mungkin di capai. Bahkan membuat lagi dan lagi deregulasi, dan filosofi non interfensi pasar dan keuangan yang di anggap sebagai tindakan dimensi amoral. Ada agenda tersembunyi di balik ini semua, kata [Joseph Stiglitz dan Bruce saparantos, dalam Towards a New Paradigm in Monetary Economics (2003), hal 206. Walaupun mereka bersumpah atas nama efisiensi dan inovasi, sang juara deregulasi laissez faire mempunyai kepentingannya sendiri dalam pandangannya dan bukan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Sebagai penutup perbankan tanpa riba dan maysir (judi) akan diusulkan sebagai alternatif solusi terbaik untuk skenario saat ini. Dalam lingkungan baru ini berbagi risiko (risk sharing) akan menggantikan pertukaran risiko (risk shifting) beserta sifat-sifatnya, kemudian menyarankan orang untuk lebih moderat dalam mengejar materi dan lebih mempertimbangkan kepentingan publik baik dalam pengambilan keputusan pribadi mereka, yang digabungkan dengan paham realisme, kemudian akan bertindak sebagai koreksi atas pertumbuhan yang merusak dari sistem kapitalisme keuangan saat ini. Ia akan dicatat sebagai model alternatif yang kuat dan tahan, moralitas harus berakar pada spiritualitas. Hal ini akan memberikan dasar untuk menerima norma-norma sosial, pengawasan negara, peraturan dan intervensi pasar berdasarkan nilai-nilai daripada kepentingan pribadi. krisis ekonomi saat ini Kami mulai dengan empat elemen penyebab krisis sebagaimana telah disebutkan di atas, yaitu kegagalan moral dan ketidaksesuaian antara insentif dari berbagai pemain dalam arena keuangan. Alasannya adalah: beberapa elemen penyebab situasi sebagaiamana dijelaskan di atas adalah bagian dari faktor ini. sesungguhnya, lembaga keuangan termasuk bank, perusahaan investasi, perusahaan asuransi dan sebagainya., Dikelola oleh profesional sewaan. Mereka yang mengendalikan konglomerasi keuangan berdasarkan kepemilikan saham memiliki motif yang berbeda dari pemegang saham biasa. Hampir seluruh penduduk di negara-negara maju terlibat dalam penyediaan modal melalui pembelian saham, obligasi, kebijakan asuransi, dana pensiun, dan sebagainya. Sementara prinsip-prinsip ini hanya tertarik pada keuntungan, sementara hal-hal lain juga berlaku motif sama, antara lain stabilitas, pekerjaan, keadilan sosial, bebasnya masyarakat dari kegelisahan. Tidak pula manajer sewaan yang hanya mempertimbangkan maksimalisasi keuntungan sebagai misi mereka, dengan balasan akan mendapatkan bonus maksimum serta keberlangsungan pekerjaan dikemudian hari. Ada pula diantra mereka sebagai perantara yang hanya mendapatkan persekot. Mereka mendapatkan lebih ketika transaksi berlipat ganda. Dalam sebuah lingkungan dimana tidak ada yang peduli akan orang lain, dan oleh karena semua orang terfokus kepada orang lain hanya untuk kepentinganya sendiri, sementara kepentingan umum dijaga ketat oleh regulator. Bagaimana bisa fokus diri yang sama berasal dari individu yang ingin menyingkirkan regulator yang akan bekerja untuk mempromosikan dan melindungi barang publik, hal ini masih menysisakan pertanyaan bagi paham ekonomi neo-klasik. Sebuah jawaban atas pertanyaan ini adalah, meskipun, disediakan sekolah umum: prlayanan publik juga, ditunjuk dan dipilih, mencoba untuk memaksimalkan keuntungan pribadi! Tanpa melibatkan diri dalam wajah buram masyarakat terkini, saya menyarankan bahwa kita memulai dengan mendiskusikan faktor pertama dari ketiga faktor tersebut dari sudut pandang awal makalah ini. Dengan demikian saya memandang maysir-produk keuangan [seperti CDS, Kredit default swap], piramida terbalik hutang (invered phyramid) [dengan dasar aset nyata minim] dan kelangkaan likuiditas ..., yang kesemuanya adalah penyebab situasi saat ini, berakar dari kegagalan moral sebagaimana dijelaskan di atas. Hal ini mungkin saja dapat berbeda. Alasannya dapat ditemukan pada peniadaan moral dari ekonomi setelah sekularisasi masyarakat pada zaman pencerahan. Peradaban Islam mempunyai instrumen untuk menjaga komitmen masyarakat pada nilai-nilai tertentu seperti [pelarangan terhadap riba dan perjudian, misalnya] yang menjaga masyarakat dari menjadi mangsa dan predator. Saya lanjutkan dengan mengelaborasi elemen-elemean krisis satu per satu. Kasino Ekonomi dan Kesejahteraan Manusia Ada apa dengan perjudian? Pertama, perjudian tidak menciptakan kekayaan tambahan. Judi hanya mentransfer kekayaan dari pemilik yang (kalah) kepada yang (menang). Dengan mempertimbangkan sumber daya manusia yang digunakan dalam proses tersebut, transfer kekayaan melalui permainan ini tidak dapat dianggap sebagai hal yang efisien. Mereka tidak melayani setiap tujuan sosial. Keuntungan dan kerugian yang diciptakan tidak mejustifikasi biaya oppurtunity (opputunity cost). Keadaan lain yang menugurangi beban seperti penerimaan negara dalam bentuk pajak atau pekerjaan yang dihasilkan dari kasino, lotere, dll. tidak dapat dianggap sebagai 'keunggulan' sampai akseptabilitas perjudian itu disahkan. Saya berpendapat bahwa penukaran risiko (risk shafting) adalah judi. Siapa yang membeli pertukaran risiko dengan sejumlah uang (harga) untuk jumlah uang yang tidak tentu, pengirimannya juga tidak tertentu. Kredit default, swap adalah contoh yang tepat. Jutaan pinjaman yang dibuat oleh bank merupakan subjek masing-masing risiko default (risiko kredit) dalam berbagai ukuran. Seperti Joseph Stiglitz dan Bruce Greenwald menunjukkan bahwa kredit tidaklah homogen seperti uang [Towards a New Paradigm in Monetary Economics (2003), halaman 271]. Risiko yang melekat untuk setiap pinjaman adalah suatu hal yang unik. Lembaga yang melakukan pembayaran untuk semua defaulters, katakanlah satu juta peminjam tidak mempunyai dasar ilmiah untuk mengukur berapa risiko yang akan diambil. Tidak ada sejarah panjang untuk mundur. Jumlah hukum yang besar tidak berlaku. Hal tersebut hanya mengambil kesempatan, perjudian. Sehingga bank melindungi diri terhadap risiko kredit dengan memberikan pinjaman lebih dan lebih. Itulah kebijakan kredit agresif mendapat dorongan. Sub-prime mortgage tidak akan terjadi tanpa tindakan spekulatif seperti CDS. Pemberi pinjaman agresif menawarkan untuk melakukan Refinance (pembiayaan kembali) mortgage (hipotek) untuk dijadikan dasar kenaikan harga rumah, hal ini laiknya mengganti rumah yang dimiliki ke mesin ATM, sehingga mendorong masyrakat untuk berfoya-foya, beberapa diantaranya dengan sistem pembelian angsuran, mendorong pengeluaran yang tidak fundamental: daya beli, penghasilan disposable, tabungan dan investasi. Pendekatan Islam terhadap risiko adalah realistis namun sangat berhati-hati. Islam tidak memperbolehkan praktik ekonomi dengan ketidakpastian berlebihan (gharar kathir ), namun mendorong pembagian risiko. Tambahan kekayaan diciptkan dengan menggunakan kekayaan yang ada melalui resiko bersama dimana pengguna dana dan pemilik dana sama-sama menanggung risiko dari kerugian yang terjadi. Perbedaan persepsi mengenai risiko akan menentukan tawar-menawar pembagian risiko diantara mereka. Meski masing-masing pihak mempunyai motif membuat keuntungan, hal ini sangat berbeda dari mengambil kesempatan dalam perjudian. Ada kekayaan riil yang diciptakan, dan ada hasil nyata yang diperoleh. Hal ini berbeda dengan risk shfting [seperti CDS]. Baik pembeli maupun penjual risiko memiliki kepemilikan yang nyata dalam penciptaan kekayaan. Seperti halnya dalam perjudian keuntungan hanya diperoleh satu pihak, baik penjual atau pembeli risiko. Hal ini berbeda dengan risk sharing (berbagi risiko) dimana kedua belah pihak bisa mendapatkan kentungan (atau kehilangan). Seperti perjudian, risk shifting, adalah zero sum game. Berbagi risiko cocok dengan sistem manajemen risiko yang sarat nilai. Lembaga Islam musharakah, dan mudarabah, sebagai contoh dengan menargetkan penciptaan nilai akan berdampak baik bagi pengelolaan risiko. Dalam lingkungan usaha yang sehat kecemasan akan menderita kerugian sebanding dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan. Ketika sistem membolehkan praktek pertukaran risiko (risk shfitng) (pada biaya) faktor kecemasan menjadi tidak berlaku, sepanjang penjual risiko mendapat perhatian. lebih buruk lagi bila pemerintah mengambil alih risiko (seperti dalam kasus Fannie Mae dan Freddie Mac di Amerika Serikat). Sistem seperti itu hanya menguntungkan bagi mereka yang kaya dan memperbesar kesenjangan, karena hanya melindungi pemberi pinjaman dengan meninggalkan nasabah peminjam untuk membela diri mereka sendiri. Ini adalah wajah dari sistem yang ada saat ini dan dampaknya adalah penderitaan dimana sebagian mendapat keuntungan sedang di pihak lain mendapat kerugian--- keuntungn dinikmati perusahaan, sedang kerugian ditanggung oleh pembayar pajak. Sebagai pembanding perhatikanlah sebentar pendekatakan Isalam sebagaimana di jelaskan dalam al Qur’an 278-281: Orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakannya(meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan Jika bertaubat (dari pengambilan riba maka bagi kamupokok hartamu; kamu tidak dianiaya (pula) dianiaya. Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). [2:278-81] Ayat di atas menjelaskan bagaimana menangani krisis ekonomi yang diakibatkan oleh default (gagal bayar pinjaman). Krisis seperti sub-prime di AS (jika krisis tersebut terjadi dalam Islam dengan sistem bebas bunga dan risiko berdasarkan sistem sharing) tidak akan ditangani dengan memperluas kredit bagi pemberi pinjaman namun dengan memberikan waktu tangguh kepada peminjam dan menghapus beberapa hutangnya. Kredit Tanpa Cerdibilitas Jumlah hutang yang berlebihan, pemberian sejumlah kredit (dalam beberapa kasus) tidak pernah bisa, meningkatkan modal perusahaan, sebagai hasil langsung pembiayaan melalui hutang dengan bunga. Bisnis pemberian kredit untuk berkembang terus membutuhkan ekspansi kredit. Setelah semua, perhatian utama dari lembaga kredit adalah dengan membuat uang dalam bentuk bunga pinjaman dari setiap hutang yang beredar. Setiap pengembalian pinjaman akan ”membunuh” arus pendapatan yang ada, setiap perluasan pinjaman akan menghasilkan aliran pendapatan baru. Dengan ketersediaan Kredit defaults swap dan perusahaan asuransi seperti AIG diduga menyediakan perlindungan, menyebabkan sub-prime lending tampak menarik. Sisa dari cerita ini sudah diketahui. Hutang pembiayaan bagi usaha produktif lebih memilih risk shifting (pergeseran risiko) dari pada sistem bagi risiko (risk sharing). Ini adalah tindakan ”amoral” serta kontraproduktif. Pada lingkungan dimana perusahaan produktif berada tidak dapat menjamin terciptanya tambahan kekayaan. Ini hanya sebuah probabilitas (kemungkinan). Pemberi pinjaman mensyaratkan jaminan pengembalian positif terhadap sejumlah pinjaman adalah tidak adil. Sebenarnya hal ini tidak cocok secara makro [yakni, masyarakat] dalam jangka panjang. Beberapa perusahaan gagal. Beberapa berakhir tanpa pengembalian positif modal investasi. Pelunasan dalam beberapa kasus ini berasal dari kekayaan lama yang telah ada ketika pembiayaan pada proyek yang baru diluncurkan. Pelunasan peinjaman dilakukan dengan menambahkan bunga, oleh mereka yang gagal dalam usahanya menciptakan kekayaan, sehingga menyebabkan transfer kekayaan dari pengusaha kepada pemilik modal yang tidak ingin berbagi risiko sedang usaha yang dijalankan belum memperoleh keuntungan. Menempatkan produsen / invesator pada posisi yang kurang menguntungkan dibanding dengan mereka yang punya uang tidak punya efek positif bagi masyarakat. Orang kaya yang berkontribusi terhadap gaya hidup terletak di atas piramida kekayaan menciptakan masalah di bawahnya. Masyarakat dapat melanjutkan pemenuhan kewajiban hutang selama ada percepatan pertumbuhan yang tinggi. Tetapi planet bumi, dan ekologi lingkungan serta sumber daya tidak dirancang bagi pertumbuhan (ekonomi) tanpa batas. penurunan lingkungan, peningkatan kesenjangan, ketegangan sosial adalah hasil langsung dari beban berat hutang keuangan. Masalahnya bertambah berat ketika ekspansi moneter dilakukan juga dalam bentuk intersest bearring debts, seperti yang berlaku dalam sistem moneter saat ini. Dalam rangka untuk mencetak uang beredar baru maka hutang harus diberikan, hutang baru harus diciptakan. Untuk setiap pinjaman harus dikembalikan berupa pokok beserta bunga, peminjam harus lebih banyak uang daripada mereka. tambahan uang ini memicu tambahan hutang lainnya, dan seterusnya. Seperti ditunjukkan pada paragraf sebelumnya keterpaksaan berhutang membuat keterpaksaan pertumbuhan yang menyumbang kepada kerusakan ekosistem. Jual Beli Hutang Beberapa hutang pembiayaan selalu menjadi bagian dari pasar keuangan. Bahkan dalam peradaban Islam dahulu ada perdagangan kredit, karena memang merupakan bentuk pembiayaan hutang, sehinga berkembang dengan pesat. Islam tidak ada masalah dengan parktek tersesbut selama sejalan dengan larangan, penukaran uang sekarang untuk mendapatkan jumlah uang yang lebih besar dalam jangka waktu tertentu. Masalahnya dimulai dengan penjualan hutang, baik diciptakan dengan uang pinjaman atau hutang pada barang siap dijual. Penjualan hutang hanya dibolehkan pada harga par atau face value. Tetapi susah didapatkan pasar pertukarang hutang pada harga par. Anda memiliki hutang ketika pasar obligasi [yakni, hutang] ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Penjualan hutang berarti penjualan risiko [atau shifting risk]. Tempat pasar uhtang tumbuh didorong oleh kekuatan penawaran dan permintaan [seperti pasar obligasi konvensional] yang rentan terhadap praktik perjudian seperti spekulasi, karena tidak ada tujuan dasar untuk mengukur risiko default. perubahan harga mencerminkan perubahan persepsi terhadap risiko. Sebagaimana telah diketahui persepsi tersebut kadang-kadang dapat dimanipulasi melalui penanaman cerita di media. Secara menakjubkan, larangan penjualan hutang akan secara drastis mengurangi volume hutang. Sebagai akibatnya akan menurunkan skala volume hutang beredar sampai pada tingkat riil aset yang ada. Piramida terbalik (inverted phyramid) hutang, berlandaskan pada minimnya asset riil, akan digantikan oleh rectanguler column of debts , yang menentang kesamaan antara jumlah asset riil dan jasa yang diperoleh. Sehingga volatilitas di pasar obligasi secara langsung terkait dengan total volume obligasi. Makin besar volume hutang, makin lemah pula hubungan dengan kekayaan riil, dan lebih banyak ruang untuk melakukan spekulasi seperti perjudian.
Derivatif Derivatif juga melibatkan ketidakpastian secara berlebihan. Mereka memfasilitasi pengelolaan risiko pasar tertentu (berkaitan dengan harga, tingkat pertukaran, dll) ..untung-untungan masih menjadi elemen dasar dalam situasi ini, namun, ekspektasi didasarkan pada spekulasi murni. Derivatif juga merupakan zero sum game: apa yang saya dapatkan (untung) berasal dari kekalahan (kerugian) anda, Berbeda dengan situasi win-win dalam perdagangan berbagi risiko (risk sharing). klaim bahawa sistem tersebut dapat menaikkan likuiditas dan meningkatkan efisiensi operasional, di pasar keuangan bukanlah hal yang substansial. Apa yang bisa secara empiris dibangun adalah, apapun manfaat awal bagi investor kelas tertentu, ketersediaan produk derivatif mengundang kegiatan spekulasi. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa produk derivatif yang diperdagangkan lebih banyak dari PDB dunia. Pasar derivatif sesunggunya telah berubah menjadi kasino. Peran liquiditas ilmiah Permintaan likuiditas sejalan dengan peningkatan ekspansi kredit. Kekurangan likuiditas saat ini berakar dari tingkat hutang yang berlebihan. Tidak terkendalinya risiko seperti subprime mortgage, menghasilkan kurangnya kepercayaan terhadap stabilitas harga saat ini, begitu pula default yang berpengaruh pada likuiditas perbankan. Situasi ini menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank, sehingga mereka melakukan penarikan dana secara massif. suntikan lebih banyak uang tunai ke dalam sistem dapat lebih efektif jika diberikan kepada debitur --- konsumen akhir, usaha kecil, pemilik rumah miskin, dll .--- yang kemudian akan menggunakannya untuk memenuhi kewajiban keuangan mereka atau melakukan pembelian baru. Sebagaimana sistem yang bekerja, uang tersebut diberikan kepada bank-bank dan perusahaan asuransi. Hal ini menjadikan pasar sebagai hutang, yang kemudian menciptakan mata rantai hutang. Solusi dengan metode ini untuk menyelesaikan krisis adalah seperti menanam bibit krisis baru. KESIMPULAN Saya berharap bisa melanjutkannya. Tetapi sudah banya subjek yang berbicara mengenai hal ini. Saya hanya mencari respons pembaca mengenai gagasan utama saya: Semua kekurangan teknis dan kesalahan taktis telah membawa kita pada krisis sekarang ini, yang sesungguhnya berakar dari krisis moral. sesuai dengan masyarakat yang secara individu peduli pada kepentingan umum dan saling bekerja sama dengan baik satu sama lain untuk mempromosikan hal ini, meskipun setelah pemenuhan kebutuhan pribadi untuk menjamin kelangsungan hidupnya, kita bisa menguras lebih banyak masalah lagi tentang apa yang sedang kita hadapi. Hanya masyarakat seperti itulah yang peduli pada kepentingan publik dapat memilih komposisi yang tepat bagi keterpaduan intervensi negara dan inisiatif swasta. Masyarakat seperti ini memungkinkan untuk diwujudkan. Marilah kita pertama berbagi mimpi yang kita dambakan dibawah pengaturan terbaik mengenai, sosial, politik, ekonomi dan keuangan.. Marilah kita semua bergabung dalam pencarian alternative baru. |